Jumat, 12 Juni 2009

Tentang mereka...

Gw habiskan banyak waktu gw akhir2 ini untuk merenung dan berpikir. Mengenang hal apa2 aja yang udah gw lakuin selama gw hidup. Ternyata banyak sekali yang harus gw syukuri dalam hidup gw sekarang. Terutama saat2 kebersamaan dengan orang2 yang menyayangi gw.

Setelah gw pikir2, betapa luar biasanya Allah Yang selalu memberikan orang2 yang baik yang menyayangi gw dengan luar biasa selama ini.

Gw jadi suka berpikir2, apakah setelah gw pergi nanti, gw masih bisa dapet orang2 sebaik ini lagi?

Banyak orang bilang, kadang gw suka lebay kalo udah perpisahan kaya gini. Mereka bilang gw terlalu mendramatisir keadaan dan ngebuat semua yang sebenarnya mudah jadi seolah2 susah. Sebenarnya, apa sih yang paling gw takutkan dari perpisahan seperti ini?!?

PERUBAHAN.

Itu yang gw takutkan.

Ketika sepuluh dua puluh tahun lagi kita bertemu dan orang baik yang dulu gw kenal sudah tidak senyaman dulu lagi. Ketika dy udah punya dunia sendiri yang ngak gw kenali. Ketika kita berdua jadi dua orang asing dari dua planet yang berbeda! Padahal bukannya dulu kita temen gila bareng? Temen seneng sedih bareng? Temen kaya miskin bareng???!?

Dan ketika gw bertanya sama dy “kenapa lo berubah?” dy bakal dengan garangnya balas bertanya “apa lo ngak sadar kalo ELO sebenernya yang udah berubah?!?”.

Jadi sbenarnya apa dan siapa yang salah dari semua ini...?:(

Gw bilang gini sebnarnya karena gw mengalami banyak hal2 menyakitkan seperti ini sepanjang hidup gw 23 tahun. Terkadang gw seperti takut berhadapan dengan masa lalu, dengan manusia2 dari kisah2 lama itu. Yang ketika gw temui ternyata cuma bisa bikin gw merasa terluka dan tidak dikenali. Padahal apa mereka tidak tahu betapa rindunya gw dengan mereka?! Rindu dengan saat2 dimana berapa uang di dompet kita itu bukan masalah. Rindu dengan masa2 dimana merek baju apa yang elo pake itu bukan persoalan besar. Rindu dengan kebebasan menjadi orang biasa, dimana jargon ‘komunitas mana elo sekarang’ itu bukan hal penting yang perlu dibesar2kan!

Terkadang setiap liburan gw menghabiskan banyak waktu gw berjalan dari satu tapak ke tapak lain meliat puing2 dari masa lalu yang berserakan itu, mencoba untuk gw pungut satu2 dalam kantong hati gw. Tapi ketika gw pulang, ternyata puing2 itu sudah membuat hati gw terluka. Hati gw berdarah2 tergores mereka...

Lalu apakah yang gw lakukan itu salah...? Apa memang tidak seharusnya gw pungut mereka kembali? Apa seharusnya gw biarkan mereka ada dipinggir begitu saja? Seperti juga mereka melakukan hal yang sama terhadap gw?

Salah seorang temen gw pernah bilang, ketika elo berpisah dengan seorang sahabat lo, lalu elo liat dy seperti menghilangkan kontak dengan elo. Maka, elo yang harus bergererak! Elo yang harus mengalah untuk mengontak mereka, menjaga lagi hubungan terputus itu. Supaya hubungan ini tetap terjaga. Supaya tidak menghilang... Karena memang harus ada yang mengalah. Harus ada yang melangkah maju. Karena ketika kita sama2 diam di tempat, sebenernya yang kita dapatkan hanya nothing! Tapi, bukankah segala sesuatu itu punya konsekwensi? Tidak selamanya melangkah maju juga tidak memberikan efek negatif apa2. Dan tetep kita personal pertama yang harus siap dengan segala resikonya.

Dan kali ini...gw akan mengulang kembali saat2 berpisah itu. Lagi dan lagi. Karena gw pernah bilang dulu di novel gw, “ketika elo memulai pertemuan sebenarnya elo sedang merencanakan perpisahan”. Menjijikan sekali rasanya bertemu dengan seseorang yang kita kenal, kita nyaman, kita hidup dengannya, ketika tertawa dan menangis bersama, lalu...kita ditinggal atau meninggalkan.

Tapi, hidup adalah hidup. Mungkin ini bagian dari ketidaksempurnaan. Karena sekuat apa kita mempersiapkan, seluas apa ilmu yang kita miliki, kita tetap hanya hamba lemah yang pada akhirnya harus menyadari, ada Zat Maha Agung diatas sana yang sudah tidak terjamah akal kerdil kita. Zat itu secara tidak langsung ingin menyadarkan kita, bahwa kita tidak lebih dari hewan berakal yang lemah. Yang hidup dari belas kasihan dan pemberianNya. Kita dan ketidakpunyaan kita dengan apa2...

Pada akhirnya, gw berusaha untuk tidak menyesali apa yang sudah gw lalui dan akan gw lalui. Yg pasti, gw benar2 bahagia menghabiskan waktu 4 tahun gw disini. Di saat gw merasa tidak nyaman, tidak betah, terluka, dengan luar biasanya Allah mengirimkan orang2 itu pada gw. Saudara2 gw. Mereka bukan lagi sekedar teman, bukan lagi sekedar sahabat, mereka bagian dari darah gw, urat nadi gw. Mereka orang pertama yang bisa gw hubungi dalam situasi apapun dan siap kapan pun.

Sungguh luar biasa arti kebersamaan di Cairo ini buat gw. Negara kumuh dan cokelat ini ternyata memberikan gw bukti nyata dibalik dunia yang sudah serba carut marut itu, ada segelitir manusia tulus yang sedang belajar agama dan saling mencintai apa adanya. Segelintir manusia yang membuat pola pikirnya sendiri. Membuat jalan hidupnya sendiri. Menjadikan dunia bukan lagi bagian terpenting yang harus selalu dimahadewakan. Menjadikan kekurangan kita, keegoisan kita, kelemahan kita, ketidakberdayaan kita adalah bagian dari rasa bangga mereka mengenal kita. Menerima apa adanya. Tidak melihat seperti apa kita dimata masyarakat yang lainnya. Itu yang terindah dari semua hubungan ini buat gw.

Gw merasa dihidupkan, diadaan, dinyatakan.

Gw hanya berharap, kalo elo pernah hidup di Cairo ini, semoga elo seberuntung gw. Bertemu dengan malaikat2 berhati emas itu dan bisa menjadi salah seorang sahabat baik mereka...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar